Dedaunan yang gugur di area kebun dan halaman sering kali dipandang sebagai sampah kotor yang mengganggu keindahan pandangan. Padahal, limbah organik tersebut mengandung nutrisi penting yang sangat dibutuhkan oleh tanah untuk menjaga kesuburan mikroorganisme di dalamnya. Dengan pengolahan yang tepat dan sederhana, tumpukan daun kering dapat diubah menjadi pupuk humus berdaya guna tinggi untuk menyuburkan aneka tanaman di sekolah.
Proses pembuatan humus diawali dengan mengumpulkan guguran sampah organik dan memisahkannya dari limbah plastik atau anorganik. Dedaunan tersebut kemudian dicacah menjadi bagian-bagian kecil agar proses pembusukan oleh bakteri pengurai berlangsung lebih cepat. Pengumpulan bahan baku yang melimpah ini sangat mudah didapatkan di area sekolah yang memiliki banyak pohon pelindung rindang.
Langkah berikutnya adalah menimbun cacahan daun dalam bak pengomposan atau lubang biopori yang telah disiapkan di tanah. Setiap selapis dedaunan disiram dengan sedikit air atau larutan starter mikroba guna mempercepat proses dekomposisi organik. Penutupan bak kompos dilakukan untuk menjaga kelembapan serta suhu internal penimbunan agar mikroba bekerja secara optimal.
Upaya pemanfaatan limbah organik ini sejalan dengan komitmen sekolah dalam menjaga kebersihan lingkungan dari polusi asap pembakaran. Penerapan pelarangan membakar sampah daun secara ketat menjadi fondasi utama dalam menciptakan kualitas udara sekolah yang sehat, segar, dan bebas dari partikel asap berbahaya.
Pembalikan tumpukan kompos dilakukan setiap satu minggu sekali guna memasukkan oksigen ke dalam lapisan tanah yang membusuk. Dalam waktu empat hingga enam minggu, warna dedaunan akan berubah menjadi cokelat kehitaman dan beraroma seperti tanah alami. Pupuk humus yang telah matang siap dipanen dan dicampurkan pada media tanam pot atau bedeng sayuran sekolah.
Mengolah limbah guguran pohon menjadi pupuk organik memberikan manfaat ganda bagi kelestarian lingkungan dan efisiensi biaya perawatan kebun. Siswa diajarkan untuk memahami siklus daur ulang materi organik secara ilmiah dan praktis. Budaya memanfaatkan limbah alam ini membiasakan warga sekolah untuk senantiasa menerapkan prinsip hidup ramah lingkungan secara konsisten.
