Salah satu program yang paling menonjol dan menjadi perbincangan hangat adalah gerakan pungut sampah yang dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum jam pelajaran dimulai. Dalam durasi waktu yang singkat namun konsisten, seluruh siswa, guru, hingga staf bahu-membahu menyisir setiap sudut sekolah untuk memastikan tidak ada satu pun sampah plastik atau kertas yang tertinggal. Kegiatan ini tidak dianggap sebagai beban atau hukuman, melainkan sebuah bentuk gotong royong yang mempererat solidaritas antar warga sekolah. Dengan melakukannya bersama-sama, rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah menjadi semakin kuat dalam diri setiap siswa.
Transformasi mentalitas ini berhasil mengubah persepsi lama, di mana menjaga kebersihan sekolah kini telah jadi budaya yang mendarah daging. Siswa tidak lagi merasa malu atau gengsi untuk memungut sampah yang mereka temui di lantai, meskipun itu bukan sampah yang mereka buang sendiri. Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika mereka bisa melihat lingkungan belajar mereka dalam keadaan steril dan nyaman. Sekolah memberikan penghargaan secara berkala bagi kelas yang paling konsisten menjaga kebersihan, yang semakin memicu semangat kompetisi positif di kalangan murid untuk selalu menjaga keasrian lingkungan mereka.
Gerakan ini pun mendapatkan predikat sebagai aktivitas yang keren di mata para milenial dan generasi Z yang bersekolah di sana. Pihak sekolah mengemas kampanye kebersihan melalui media sosial, membuat video pendek yang menarik tentang proses daur ulang, hingga menunjuk duta lingkungan dari kalangan siswa yang populer. Dengan pendekatan kekinian, menjaga lingkungan tidak lagi dianggap sebagai hal yang kuno atau membosankan, melainkan bagian dari gaya hidup remaja modern yang bertanggung jawab. Budaya ini perlahan-lahan mulai merambah ke luar area sekolah, di mana para siswa juga mempraktikkan kebiasaan bersih ini saat berada di ruang publik kota.
Selain gerakan pungut sampah, SMPN 1 Madiun juga mengelola bank sampah sekolah yang sangat terorganisir. Sampah-sampah yang telah dipungut dipilah berdasarkan jenisnya; sampah organik diolah menjadi kompos untuk taman sekolah, sedangkan sampah anorganik disalurkan ke unit kerajinan untuk diubah menjadi barang yang lebih bernilai guna. Proses ini mengajarkan siswa tentang konsep ekonomi sirkular, di mana limbah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi bisa kembali memberikan manfaat. Pendidikan karakter yang dibalut dengan keterampilan praktis seperti ini sangat efektif dalam membentuk pola pikir siswa yang solutif terhadap masalah lingkungan.
