Inti dari kegiatan ini adalah pelaksanaan Workshop Tas Siaga Bencana yang menggabungkan teori mitigasi dengan praktik pembuatan perlengkapan keselamatan pribadi. Fokus utamanya adalah membekali setiap siswa dengan pemahaman tentang pentingnya memiliki tas yang berisi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama minimal 72 jam pertama pasca-bencana. Di SMPN 1 Madiun, kegiatan ini diikuti dengan antusias karena siswa diajak untuk menyusun sendiri daftar perlengkapan yang paling esensial. Mereka belajar bahwa dalam kondisi darurat, barang-barang yang dibawa haruslah ringan namun memiliki fungsi yang sangat vital untuk keberlangsungan hidup.
Produk akhir dari pelatihan ini adalah sebuah tas siaga bencana yang telah terstandarisasi namun tetap personal. Siswa diajarkan bahwa isi tas tersebut harus mencakup dokumen penting dalam bentuk salinan yang terlindungi plastik kedap air, pakaian ganti untuk tiga hari, air mineral, makanan instan berkalori tinggi, serta alat komunikasi sederhana seperti peluit. Selain itu, perlengkapan sanitasi dan obat-obatan pribadi juga menjadi komponen yang tidak boleh tertinggal. Pemilihan tas yang digunakan pun ditekankan pada jenis ransel (backpack) agar tangan tetap bebas bergerak saat melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih aman.
Konsep emergency kit yang dikembangkan di sekolah ini juga menekankan pada kearifan lokal dan kebutuhan spesifik siswa. Misalnya, bagi siswa yang memiliki adik kecil di rumah, mereka disarankan menambahkan perlengkapan bayi ringan ke dalam tas tersebut. Di SMPN 1 Madiun, instruktur menekankan bahwa tas ini harus diletakkan di tempat yang mudah dijangkau, seperti di samping tempat tidur atau di dekat pintu keluar rumah. Pengetahuan ini sangat penting agar saat terjadi guncangan atau ancaman bahaya lainnya, siswa tidak perlu menghabiskan waktu berharga hanya untuk mencari barang-barang yang berserakan.
Kegiatan di Madiun ini juga menyentuh aspek psikologis, di mana kesiapan fisik melalui penyediaan tas darurat dapat mengurangi rasa cemas yang berlebihan saat menghadapi bencana. Siswa merasa lebih berdaya karena mereka telah melakukan langkah antisipatif yang nyata. Pihak sekolah juga mendorong siswa untuk menularkan pengetahuan ini kepada anggota keluarga di rumah, sehingga setiap keluarga memiliki setidaknya satu tas darurat yang siap digunakan. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam menyiapkan siaga bencana ini menciptakan komunitas yang lebih tangguh dan memiliki daya tahan yang baik terhadap krisis.
